Panorama Studi di Korea

“Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” ― Nelson Mandela

Korea sedang banyak diperbincangkan oleh dunia saat ini. Tidak hanya dengan Korean wave-nya yang berhasil menyapu berbagai penjuru belahan dunia. Tetapi juga tentang kedigdayaan kekuatan industri dan pendidikannya. Korea menjadi buah bibir yang saat ini diperhitungkan dalam kancah percaturan dunia. Sebut saja perusahaan industri terkemuka milik Korea seperti Samsung, Hyundai, dsb. Industri tersebut mampu bersaing dengan pasar Eropa dan Amerika secara signifikan. Mereka menawarkan teknologi yang bisa dibilang lebih canggih atau minimal bisa menawarkan teknologi yang sama dengan pesaing beratnya. Misalnya, Samsung dengan produk Galaxy S4 yang dijejali berbagai teknologi canggih dapat bersaing dengan iPhone, handphone besutan Apple. Belum lagi Hyundai yang menawarkan mobil dengan teknologi tinggi seperi smart parking dan untuk seseorang berkebutuhan khusus.

Tentunya masih banyak capaian Korea dalam beberapa dekade terakhir ini. Dari semua itu kunci utamanya  terletak padapendidikan. Pendidikan merupakan kunci utama dalam kemajuan suatu bangsa. Pendidikan menentukan arah kemana sains dan teknologi akan dikembangkan.  Pendidikan juga dapat menembus pagar sejarah kelam suatu bangsa. Hal ini dikatakan secara tegas oleh Nelson Mandela yang saya kutip diatas.

Bila dilihat dari rangking dunia. Prestasi universitas yang berasal dari Korea mulai menunjukkan geliatnya untuk merebut kursi nomer satu dalam urutan tersebut. empat diantaranya msuk dalam daftar 200 besar universitas dunia versi THES 2012-2013 (Times Higher Education) yakni Pohang University of Science and Technology, Korean Advanced institute of Science and Technology, Seoul National University dan Yonsei University.

Berbicara mengenai kuliah di Korea, banyak yang bilang kuliah di Korea itu cuma ada dua pilihan. Yang pertama jika jurusannya adalah sains dan teknologi maka kebanyakan waktu belajarnya akan dihabiskan di dalam laboratorium. Kedua adalah jika jurusannya sosial maka kebanyakan waktunya akan dihabiskan di dalam perpustakaan. Hal tersebut menjadi sebuah harga mati yang harus dibayar oleh seorang mahasiswa di Korea.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Korea. Saya merasakan atmosfir yang memang berbeda dari Indonesia. Kalau saya membandingkan antara Korea dengan Indonesia. Layaknya workaholic dan sleepaholic. Korea adalah tempat dimana orang selalu berjalan dengan cepat dan terburu-buru. Ketepatan waktu adalah hal utama yang sangat dijunjung tinggi disini. Di dunia kampuspun juga demikian mungkin lebih tepat disebut sebagai studyholic. Mahasiswa jarang yang datang terlambat dalam kelas. Dosennya-pun juga demikian. Bahkan tidak jarang dosennya menunggu para mahasiswanya datang ke kelas. Sehingga suasana belajar mengajar dapat dilakukan secara kondusif, bahkan sangat kondusif. Biasanya satu SKS (sistem kredit semester) dalam satu mata kuliah diberi alokasi waktu 50 menit. Sedangkan 10 menitnya digunakan untuk istirahat sejenak minum kopi atau ke kamar kecil. Hal tersebut dilakukan secara konstan tanpa ada sedikit perubahan. karena setiap perubahan kecil akan berdampak pada budaya yang dapat merebak dengan cepat. Yang akhirnya akan merusak sistem yang telah dibangun.

Mengenai fasilitas kampus, hati ini tak henti-hentinya berdecak kagum ketika melihat berbagai fasilitas penunjang nan canggih dan lengkap. Di Myongji College tempat saya mengenyam pendidikan tersedia berbagai fasilitas pendukung kegiatan belajar mengajar.  Satu hal yang paling saya rasakan perbedaan dengan kampus yang ada di Indonesia adalah tidak adanya birokrasi  njlimet yang membuat mahasiswa merasa terbebani. Semua sudah terkomputerisasi dengan baik. Ketika membutuhkan suatu dokumen pendukung akademik. Bisa dipastikan tak kurang dari 15 menit sudah berada ditangan dokumen tersebut. Setiap kelas terdapat satu komputer di meja masing-masing. Jadi mahasiswa dapat melaksanakan praktik dan teori sekaligus. Satu mahasiswa satu komputer dan petugas asisten yang membantu mempersiapkan semua program yang dibutuhkan. Belum lagi jika akan melakukan praktikum, karena jurusan saya adalah ITC (information and technology communication)maka perkuliahan lebih banyak diorientasikan kedalam bentuk praktikum. Praktikum dilakukan tanpa membebani mahasiswa untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Jika di Indonesia saya harus membeli alat praktikum tambahan karena tidak disediakan oleh pihak kampus. Di Korea sangatlah berbeda. Semua peralatan sudah disediakan oleh kampus dan mahasiswa tinggal belajar dan fokus pada praktikum yang akan dilakukan.

Di awal saya menyinggung tentang karakteristik khas mahasiswa negeri timur (Jepang, China dan Korea) yakni studyholic, inilah yang tidak dimiliki oleh Indonesia. Indonesia terkenal dengan gaya lambat dan santai. Sedangkan Korea terkenal dengan gaya cepat dan tepat waktu. Perbedaan kultur budaya tersebut terasa sangat kental disini. Khusunya terlihat pada saat akan menghadapi ujian. Orang korea akan rela untuk mengorbankan sebagian besar waktu tidurnya untuk belajar. Tidak jarang juga melihat mahasiswa korea di perpustakaan sedang tertidur diantara gunungan buku di meja. Mereka sangat ambisius sekali dalam meraih nilai ujian sempurna A+. Hal yang menarik disini ialah ketika didapati seorang mahasiswa Korea yang mendapatkan nilai A+, bisa dipastikan kemampuan skill dengan nilainya adalah seimbang. Karena untuk mencari pekerjaan yang layak sangatlah sulit di Korea sehingga antara nilai dan skill harus tidak ada yang berat sebelah. Hal ini sulit dijumpai di Indonesia. Nilai A yang notabenenya adalah nilai tertinggi dalam suatu mata kuliah merupakan representasi dari nilai kuliah semata. Bukan nilai dari skill yang dimiliki oleh mahasiswa tersebut. Hal ini dibuktikan bahwa untuk melamar suatu pekerjaan mahasiswa yang baru lulus harus menyertakan berbagai macam sertifikasi ke perusahaan yang bersangkutan. Di Indonesia nilai hanya sebagai pengantar saat wawancara kerja. Entah bagaimana hal ini bisa berkembang dikalakangan dunia pelajar di Indonesia. Tapi juga tidak bisa dipukul rata seperti itu. Banyak juga mahasiswa Indonesia yang nilai kuliahnya unggulan dan skill yang memadai. kuncinya hanya satu asal mau latihan, latihan dan latihan.

Banyak orang Korea bilang Indonesia adalah The Giant Sleep, raksasa yang sedang tertidur.Saya rasa memang ini benar adanya. Pemuda dan mahasiswa sebagai garda terdepan dalam pembangunan strategis suatu bangsa kebanyakan lebih suka untuk menghabiskan waktunya bermalas-malasan. Jika dibandingkan dengan Korea, Indonesia negeri nan subur permai itu sangat beruntung memiliki sumberdaya alam yang melimpah. Kita semua tahu. Dunia juga mengetahuinya. Namun hanya ada satu yang tidak dimiliki oleh Indonesia. Kurangnya sumberdaya manusia unggul ditunjang dengan karakter budi khas Indonesia dan mau mengabdikan diri untuk membangun Indonesia tercinta. Saya rasa sumberdaya manusia unggul tidak cukup. Kalau cuma itu saya pastikan Indonesia banyak memilikinya. Buktinya banyak sekali mahasiswa unggulan Indonesia yang tersebar diluar negeri memiliki prestasi selangit. Tetapi yang juga dibutuhkan karakter budi khas Indonesia yang terkenal luhur dan santun. Dan satu lagi yang mau mengabdi untuk kejayaan Indonesia pusaka. Bermodalkan tiga unsur utama tersebut bukan tidak mungkin Indonesia akan memimpin percaturan global dan dipandang sebagai bangsa yang besar serta terhormat. Untuk mewujudkannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh waktu, usaha keras dan kebersamaan dalam mewujudkannya.

Wallahu A’lam Bisshowab… (oleh : Akhyar Sadad)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *