Kompetisi Olah Raga Tim Indonesia

Semua berawal dari hoby  hanya ikut-ikutan untuk mendaftar dan bergabung disebuah grup perpika korea, grup yang terdiri dari semua mahasiswa Indonesia yang belajar dikorea, baik mengambil S1, S2 dan excange.

Pada saat itu tanggal 2 april 2012, itu pertama kalinya saya dan teman teman mengikuti sebuah pertemuan digrup perpika bagian seoul. Dimana dalam acara tersebut  dijelaskan apa keuntungan, manfaatnya, dan mreka menjelaskan kegiatan apa saja yang dilaksanakn selama 1 tahun itu  dan ketika mendengar ada dua buah kegiatan yaitu tim sepak bola dan bulutangkis. Tak sungkan lagi untuk mencari orang yang terlibat di dalam kegiatan itu. Hari demi hari berlalu sampai banyak sekali teman-teman dari grup yang dihubungi yang pada  akhirnya menemukan mas Mata dari universitas terbuka.

Sebelas Mei 2013 awal mula berkenalan dan bergabung dengan club badminton, bertempatkan di SNU, bermodalkan hanya membawa sepatu olahraga dan meminjam sebuah raket, tanagn dan kaki mulai menunjukan irama aliran gerakan yang indah untuk pertama kalinya sejak tiba di Korea. Meski pada akhirnya tubuh pegal semua

Empat hari berikutnya saya menerima sebuah pesan dari mas Mata  yang isinya untuk bergabung dalam turnamen bola dan dengan senang hati untuk mau bergabung. Seharian itu kita diskusi melalui sebuah pesan untuk membuat sebuah janji dll. Hingga pada akhirnya tanggal 17 mei turnament itu digelar. Turnamen yang diikuti 6 club, 4 negara yang terdiri dari negara Arab, Myanmar, Thailand dan Indonesia. Grup yang saya ikuti grup A,Tim Indonesia A. Semua pertandingan menyajikan pertandingan yang apik dan sangat seru, apa lagi ketika ke 2 tim Indonesia masuk semifinal semakin seru dan semakin semangat. Disayangkan tim A tidak begitu beruntung sehingga dapat dikalahkan oleh tim lawan. Perebutan tempat ke 3 dan 4 diperebutkan oleh 2 tim 1 negara  Indonesia A vs Indonesia B yang  harus diselesaikan pinalti langsung  sesuai kesepakatan 2 tim tersebut karena banyaknya pemain yang cideria dari ke2 tim. Hasil yang diperoleh Indonesia A lebih beruntung untuk kali ini dibanding dengan tim B.

Untuk hasil perebutan tempat ke 1 dan 2.  Arab vs thailand 2 x 30 menit  telah usai  dengan sekor   0 vs 0 sehingga adu pinalti penetunya, untuk pertama kalinya arab yang tak terkalahkan di penyisihan dan perempat final,  kemudian di final ditekung oleh thailand dgan sekor 5 vs 4. Akhir dari semuanya  Thailand menjadi juara 1 , arab juara 2 dan Indonesia A juara 3. Inilah hasil yang bisa dicapai oleh tim Indonesia. Meskipun kita hanya menjadi  juara 3, setidaknya kita bisa mengibarkan bendera merah putih dipodium 3 besar, membawa nama Indonesia berkibar.  By: Rahmad  Hendri  Pramudita.

Seoul Friendship Fair 2013

Sabtu, 4 Mei 2012, kota Seoul diramaikan oleh salah satu kegiatan yang melibatkan beberapa negara di Asia tenggara dan sekitarnya untuk ikut berpartisipasi. Adapun kegiatan tersebut yaitu “Seoul Friendship Fair 2013”. Acara tersebut sangat ramai dikunjungi oleh berbagai wisatawan baik lokal maupun internasional. Berbagai pameran digelar, seperti pameran makanan, dan pameran budaya, salah satunya seni tari.

Dalam acara yang digelar selama 2 hari berturut-turut ini, tentunya Indonesia tidak melewatkan kesempatan baik ini untuk memperkenalkan budaya Indonesia. Dalam kesempatan ini Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul, Korea Selatan (KBRI-Seoul) juga menggelar stand untuk memamerkan makanan tradisional Indonesia, dan mempersembahkan dua buah tarian tradisional Indonesia yang ditampilkan oleh para penari dari Kelompok Tari Tradisional Indonesia (KTTI), dan ada juga beberapa penari yang diundang langsung dari Jakarta, selain itu Indonesia juga menampilkan group band ciliknya, yang sempat menyumbangkan 4 buah lagi dalam acara tersebut.

Kami merasa sangat beruntung bergabung dengan tim KTTI KBRI-Seoul, sehingga bisa ikut menampilkan sebuah tari tradisional dari Kalimantan Barat yaitu Tari Bambu, dan menjadi hal yang sangat menakjubkan karena yang pertama kalinya tampil dihadapan banyak penonton yang berasal dari berbagai negara. Mereka sangat menikmati tari yang kami sugukan meski hanya berdurasi kurang lebih sekitar 6 menit. Setelah menari banyak wisatawan asing yang mendekat kepada kami dan bertanya “where u come from ?”, setiap kali dijawab Indonesia, mereka langsung mengajak foto bareng. Sungguh hal yang sangat luar biasa diajak foto oleh banyak turis dari berbagai Negara. Selain diajak foto dan kami harus menjawab banyak pertanyaan dari mereka yang ingin tau tentang Indonesia, ternyata ada reporter TV lokal yang sedikit mengambil gambar dan menginterview kami, lalu meminta kami menampilkan sedikit tarian kami. Oleh Ade Rusmawati

Serunya Sonkran di Korea

Minggu, 14 April 2013 pagi kami dibuat kaget dengan keterlambatan kami bangun. Pagi itu kami telah membuat janji dengan teman Thailand untuk pergi ke Festival yang sangat  special bagi mereka. “Songkran” adalah nama festival yang kami akan hadiri yang bertempat di Angsan 85 menit menggunakan Subway.

Songkran adalah acara tahunan Masyarakat Thailand yang diselenggarakan setiap 13-15 April. Tanggal itu merupakan hari terhangat di Thailand dengan suhu sekitar 400 celcius. Sangat panas, tapi bedah tipislah dengan Indonesia ^_^. Pada acara ini orang-orang akan saling melempar air.  Sangat seru.

Saat  kami tiba acara berdoa telah berlangsung. Para Pendeta Budha sementara berdoa, setelah itu kepada para jemaat dipercikan dengan  air  suci.

Banyak yang disuguhkan dalam acara tersebut, mulai dari peribadatan hingga wisata kuliner. Kami pun diperbolehkan mencoba beberapa ritual “songkran”, seperti menyiram patung Budha, dan menyimpan uang koin pada guci sesuai hari kelahiran. Tak ketinggalan untuk berfoto dengan noni-noni cantik Thailand.

Setelah itu berlanjut ke wisata kuliner. Suguhan yang terlihat sangat lezat namun saying hamper semua makanan  yang  disajikan mengandung daging babi. Ada  1  makanan  yang menurut saya unik, yaitu papaya salad. Sedikit mengintip dapur pembuatannya, terdiri dari campuran papaya hijau, cabe, dan kepiting. Sangat lezat.

Setelah mencoba beberapa suguhan makanan dari teman Thailand, beranjak kepanggung utama karena acara pembukaan festival akan dibuka oleh duta Thailand. Banyak performance yang ditampilkan. Ada tari, instrument music tradisional, dan yang sangat memukau pentunjukan boneka. Pertunjukan ini mirip dengan salah satu kebudayaan Indonesia yaitu wayang golek, bedanya jika di Indonesia dimainkan oleh 1 orang dalang, maka  Thailand dengan 3 orang dalang. Dalam acara ini ditampilkan juga performance dari korea yaitu taikowndo dan dance.

Tak hanya warga Thailand  namun ada juga dari beberapa Negara yang datang, ada Amerika, Vietnam, Korea Selatan, dan Indonesia. Ternyata ada Indonesia selain kami yang menghadiri acara tersebut. Silaturahim di Songkran. Oleh Aidtya Ratnafuri

Patuh Aturan

Kalau ditanya tentang Super Junior (SUJU) atau tentang SNSD, siapa sih yang tak mengenalnya. Hampir semua kalangan remaja tak ada yang tak mengenalnya. Mulai dari nama para personil, umur, kesukaan, pasti sudah sangat diketahui. Talenta yang dimiliki oleh idol tersebut memang tidak salah untuk dikagumi terlebih lagi dengan tampang dan penampilan yang menarik. Tapi taukah anda, bahwa kota yang membuat mereka terkenal justru lebih menarik. Bagi saya Korea Selatan lebih menakjubkan, lebih menarik dari para artis/aktornya. Banyak hal baik yang diterapkan di sana. Saat pertama kali menginjakkan kaki di Negara ini, saya dibuat kagum oleh lampu lalulintasnya. Saat itu ada kejadian. Teman saya menyeberang ketika lampu tanda menyeberang berwarna merah. Teman saya pun langsung ditegur.” Ingat ya di sini itu menyeberang jangan sembarangan, bisa-bisa didenda”.

Kita ketahui bersama hampir semua negara pasti memiliki traffic light (lampu lalulintas).  Namun saya baru merasakan bahwa alat tersebut berlaku setelah saya berada di Negara K-Pop ini. Peraturan sangat diterapkan.  Saat lampu merah tanda berhenti menyala, tak ada satu mobil pun yang berjalan. Meskipun kendaraan itu telah melewati zebra cross pasti akan berhenti. Semua negara pasti mengetahui arti tanda tersebut, tapi pelajaran yang saya ambil dari hal ini yaitu rasa ikut serta yang sangat tinggi dalam menjalankan suatu aturan yang telah di tentukan. Begitu pun dengan pejalan kaki, walaupun tak ada kendaraan yang berlalu lalang, namun tetap akan menyeberang ketika lampu tanda meneyebrang menyala.

Mungkin sebagian kita berprinsip “aturan itu dibuat untuk dilanggar”, tapi di negara ini mengubah pola pikir saya. Jika kita tetap berprinsip seperti itu maka kota yang tertib akan sulit kita ciptakan. Sebuah aturan tidak bisa diterapkan bukan berarti bahwa aturan itu tidak baik. Dan mungkin saja aturan tersebut malah sangat bagus. Namun tidak adanya kerjasama dalam menjalankannya maka membuat aturan itu tidak berjalan seperti yang diharapkan. Menuju suatu hasil yang baik tidak mungkin didapat dengan seketika, pro-kontra pasti akan terjadi dalam proses. Tinggal kita saja sebagai pelaku aturan apakah pro terhadap aturan tersebut atau menentangnya dengan berbagai alasan yang ada. Oleh Aidyta Ratnafuri

Impian Belajar di Korea

Pergi belajar ke luar negeri merupakan tantangan yang bisa dibilang cukup tinggi,dan sekarang kami telah menggapainya. Namun apakah tantangan yang kami hadapi berakhir? Dengan tegas akan dijawab dengan kata TIDAK. Dengan tergapainya mimpi kami belajar ke luar negeri maka kami mendapatkan beberapa tantangan baru.
Mengingat istilah Bapak Rektor Unissula Prof. Laode M Kamaluddin saat memberikan kami nasehat disela-sela kunjungannya di Myongji College, Kami diibaratkan sebagai Pasukan Panglima Tariq Bin Ziyad (jabal tariq) saat Penaklukan Spanyol.
Jabal Tariq Setelah pendaratan, memerintahkan untuk membakar semua kapal dan berbicara di depan anak buahnya untuk membangkitkan semangat mereka:
أيّها الناس، أين المفر؟ البحر من ورائكم، والعدوّ أمامكم، وليس لكم والله إلا الصدق والصبر…
Tidak ada jalan untuk melarikan diri! Laut di belakang kalian, dan musuh di depan kalian: Demi Allah, tidak ada yang dapat kalian sekarang lakukan kecuali bersungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran.
Mengapa Prof Laode mengibaratkan kami seperti pasukan Tariq? Ini dikarenakan kami telah sampai di korea tidak ada pilihan lagi bagi kami kecuali 2, pertama berjuang untuk belajar bersungguh-sungguh dan mendapatkan banyak ilmu kedua,kami pulang membawa kegagalan kami.
Berbincang dengan Prof Laode merupakan hal yang sangat luar biasa bagi kami,semangat kami bertambah setelah berbincang dengan beliau.
Di Myongji kami mendapatkan beberapa sistem pendidikan yang bisa dibilang berbeda dengan di Indonesia, misalnya saja yang pertama ketepatan waktu jika kuliah dimulai jam 2 maka kami harus sudah berada di dalam kelas jam 2 tepat (tiba sebelum dosen datang) awalnya hal ini sedikit menyusahkan kami, kami yang awalnya masih membawa Indonesian Style harus berlari-lari dari asrama ke ruang kuliah agar tidak terlambat bahkan sempat terjatuh ketika lari dan terpincang-pincang selama 4 hari. Yang kedua 3 sks benar-benar dilaksanakan 3 jam, dengan setiap 50 menit kami akan mendapatkan 10 menit break, Yang ketiga instrument-instrument pengajaran yang cukup canggih setiap ruang kelas sudah terdapat 1 Set Personal Computer untuk setiap mahasiswa sehingga kami bisa menerima teori dan praktek secara bersamaan.
Tapi, tidak selamanya semuanya manis, mengingat kembali kata Prof Laode saat acara pelepasan kami tanggal 22 Februari di Aula FTI “Kalian akan menghadapi Pahitnya menjadi Minoritas” hal ini sudah kami rasakan misalnya kendala saat teman-teman laki-laki akan melaksanakan Sholat Jumat dan Masjid Terdekat berada di Itaewon (+/- 45 menit perjalanan dengan menggunakan Subway) dan ternyata dengan jadwal yang ada teman-teman kami tidak mungkin bisa sampai tepat waktu untuk mengikuti kelas. Namun, dengan melakukan diskusi dengan dosen akhirnya jadwal diundur 30 menit. Alhamdulillah, ada juga saat kami selalu dilihat-lihat orang dikarenakan penampilan kami yang berbeda dengan mereka. Namun hal-hal tersebut tidak menyulutkan semangat kami untuk mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya di Negeri Gingseng ini.

Alhamdulillah Belajar di Korea yang dulunya cuma mimpi sudah kami peroleh,penantian kami sudah terbayarkan dengan sampainya kami disini. Tak lupa saya dan Teman-Teman disini tetap meminta Doa dari kawan-kawan di Unissula agar segala sesuatunya tetap berjalan lancer dan kami dapat pulang dengan membanggakan Unissula kelak. Seoul,17 March 2013 3.32 pm (Dhita Virgian)

Minggu Pertama di Korea

Dengan menghirup udara dingin yang tentunya jauh berbeda dengan Indonesia, apalagi saat ini masih masa peralihan musim salju kemusim semi. Jaket tebal pun membungkus tubuh kami, bahkan saat berbicara pun uap mengepul keluar dari mulut kami, sungguh pemandangan yang jauh berbeda dari tanah air. Perasaan kami mulai berkecamuk, ini bukan mimpi tapi kami benar-benar membuktikannya bahwa kami telah berada dinegeri K-POP,, ^_^

Di bandara kami dijemput oleh Miss Min yang merupakan salah satu staff  Myongji College dan digiring menuju kampus yang akan menjadi rumah kedua kami setelah Unissula. Kami diantar ke dormitory masing-masing. Tentunya tak jauh berbeda dengan Unissula, dorm untuk anak perempuan dibedakan dengan dorm anak laki-laki.

Setelah hari pertama kami mulai belajar survive sendiri, meski kadang-kadang masih selalu meminta banyak bantuan dari para pembina yaitu Miss Min, yang merupakan salah satu dosen di Myongji juga. Dan beruntungnya setelah 2 hari kami di Korea kami mendapat teman-teman baru yang sangat baik mereka berasal dari Vietnam namanya Luan, Fung, Ahn dan lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu namanya. Mereka selalu membantu kami bahkan tak jarang menjadi free tour guide untuk kami.

Tepat hari senin, 4 Maret 2013 kami mengikuti opening ceremony dari student exchange Unissula-Myongji yang juga dihadiri langsung oleh president Unissula, Prof. Dr. Laode M. Kamaludin M.Sc, M.Eng. Dalam kesempatan ini dikenalkan juga dengan para pengajar. Dan setelah itu kami diajak tour seputar kampus, diperlihatkan kelas-kelas yang akan digunakan dan semuanya menggunakan sistem yang canggih, perpustakaan, bioskop kampus, dan masih banyak lagi.

Setelah itu giliran Pak Rektor yang kami ajak tour ke dorm kami untuk melihat-lihat tempat tinggal kami, dan alangkah bahagianya kami saat itu Prof. La Ode menyempatkan diri untuk meluangkan waktu memberikan motivasi-motivasi yang InsyaAllah senantiasa membakar semangat untuk terus giat bersaing dengan mahasiswa lokal menjadi yang terbaik.

Next day kami ditemani teman-teman dari Vietnam  ke Itaewon untuk mengunjungi Prof. La Ode di hotel IP Boutique. Hingga waktu maghrib tiba kami menyempatkan diri kepemukiman muslim di Kkorea dan Alhamdulillah kami menemukan masjid dan menyempatkan diri shalat maghrib disana. Subhanallah…