Korean Culture Day

Sabtu 12 November 2016  Student Exchange Center of Dongseo University mengadakan kegiatan bertajuk “Korean Culture Day” untuk para mahasiswa, khususnya mahasiswa internasional. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk festival sekolah dimana tersedia berbagai booth yang masing-masing mewakili budaya korea, diantaranya : Taekwondo, Old school uniform and Traditional clothes (Hanbok), Korean Kite, Traditional fan,  Traditional Game, Calligraphy, Korean Paper Mask, dan masih banyak lagi. Pada booth tertentu seperti Korean Kite, Traditional Fan, Calligraphy dan Paper Mask, pengunjung diajak untuk membuat kreasi mereka sendiri. Di booth lainnya, pengunjung diperbolehkan mencoba Hanbok dan mencoba permainan tradisional Korea. Setiap selesai melakukan kegiatan, pengunjung akan di beri “stamp of accomplishment” yang nantinya bisa ditukarkan dengan hadiah.

Selain booth, panitia juga mengadakan perlombaan yang terbuka untuk umum, beberapa diantaranya adalah throwing shoes (lempar sepatu), arm wrestling (panco), rope jumping (lompat tali) dan sebagainya. Kegiatan yang berlangsung selama kurang lebih dua setengah jam ini (13.30 – 16.00) dimulai dengan pertunjukan Taekwondo, Samulnori (musik perkusi khas Korea) serta ice breaking berupa senam ringan dan “greeting to strangers” dimana para pengunjung harus menari bersama dan menyapa orang-orang yang tidak mereka kenal. Panitia berharap sebelum memulai kegiatan, semua pengunjung dapat berbaur dan mengenal satu sama lain, dan sapaan adalah permulaan yang baik.

Di akhir acara, semua pengunjung diajak untuk berpartisipasi pada permainan “X or O”, kemudian panitia membagikan souvenir berupa tas dan makanan serta minuman khas Korea. Kegiatan ini sedikit banyak dapat menambah pengetahuan para mahasiswa internasional mengenai budaya dan tradisi Korea serta di beberapa booth, pengunjung juga dapat mempelajari keahlian baru yakni membuat beberapa barang tradisional Korea seperti kipas, layangan, kaligrafi, dan sebagainya.

Sekilas Tentang Dongseo

Di Dongseo University, mahasiswa boleh mengambil mata kuliah jrusan lain yang diminatinya walaupun diluar jurusannya. Namun untuk mahasiswa Exchange dibatasi hanya pada kelas jurusan yang diambil. Perkuliahan menggunakan pengantar bahasa Inggris dan juga diperbolehkan memilih kelas GLAP. Pilihan kelas GLAP cukup beragam dan mencakup berbagai bidang ilmu. Beberapa contoh kelas GLAP antara lain: Media and Culture, Design and Creative Thinking, Computer Application, dan lain-lain. Dalam kelas GLAP tidak hanya mahasiswa dari jurusan tertentu, namun kelas ini terbuka untuk mahasiswa jurusan lainnya.
Salah satu kelas GLAP yang kami ambil adalah Design and Creative Thinking. Kami mengambil kelas ini karena merasa cukup perlu untuk mengasah kreativitas, apalagi untuk jurusan Computer Engineering, kreativitas sangat dibutuhkan dalam mengembangkan pemikiran inovatif terkait perkembangan teknologi. Dalam kelas Design and Creative Thinking, mahasiswa tidak diberi sedikitpun teori. Menurut pengampu kelas ini Prof.Kim Hae Yun, mahasiswa harus terlebih dahulu mengalami pengalaman memecahkan masalah tertentu untuk kemudian bisa mengerti cara-cara mendesain pemikiran kreatif pada dirinya.
Pada pertemuan pertama kelas ini, profesor memberikan masalah untuk dipecahkan dengan mengubah tampilan sebuah gelas. Dan dipertemuan selanjutnya, mahasiswa diminta untuk memperkenalkan diri secara visual menggunakan selembar kertas. Kertas tersebut boleh diubah sedemikian rupa, entah dengan digambari atau dibentuk sesuai dengan bagaimana mahasiswa tersebut merepresentasikan dirinya masing-masing. Hal-hal tersebut hanya gambaran kecil mengenai kelas Design and Creative Thinking. Disetiap pertemuan kelas ini, mahasiswa akan terus diberikan sebuah masalah untuk dipecahkan. Kelas ini dirancang untuk menstimulasi pembentukan pemikiran kreatif dalam pemecahan masalah khususnya melalui segi visual. Kelas seperti ini cukup penting dan sangat cocok untuk jurusan apapun karena semakin dewasa, terkadang manusia lebih fokus pada resiko-resiko sehingga kebanyakan orang memilih untuk melangkah pada “jalur aman” yang dipakai mayoritas orang. Hal ini malah membatasi dan perspektif mereka untuk melihat masalah yang sama dengan solusi yang berbeda. (Wardi & Ledi 09102016)

Program Tutor

Tutoring adalah program setiap semester yang diadakan Myongji College. Program ini berlaku untuk semua mahasiswa Myongji College tanpa terkecuali. Program yang dilakukan berupa belajar bersama dengan waktu hinggah mencapai target yang diberikan yaitu 18 jam. Setiap tim terdiri dari seorang Tutor ( pengajar) dan 2-3 anggota. Seperti yang saya katakan sebelumnya, semua  mahasiswa berpartisipasi tanpa terkecuali. Kami pun turut serta dalam program tutoring tersebut.

Pada semester pertama di Myongji college, kami sudah terdaftar sebagai peserta tutor. Tutor dimulai setelah beberapa minggu masa perkuliahan berlangsung. Tutor kami adalah mahasiswa korea, dan diantaranya bisa berbahasa inggris, cukup memudahkan kami dalam mengikuti program tutor.  Program tutor kami diisi dengan mengunjungi tempat -tempat di Korea. Awalnya kami berpikir bahwa tutor disini hanya berupa jalan-jalan, namun setelah dipertanyakan. Untuk para foreign program tutornya berupa belajar sejarah dan kebudayaan Korea. Sehinggah tidak heran jika tempat yg kami kunjungi merupakan tempat-tempat bersejarah.

Pada Tutor semester kedua, wali dosen kami mengajukan usul kepada pihak Myongji agar para foreign membuat kelompok dengan tutor dari mereka sendiri. Tujuannya agar tidak ada misscomunication karena perbedaan bahasa.  Walaupun sebenarnya di tutor oleh orang Korea bisa membantu dalam praktek berbicara, namun bukan bukan berarti usulan tersebut salah.  Kami pun terbagi menjadi 3 kelompok dengan tutor yang telah dipilih oleh wali dosen yaitu Akhyar Sadad ( fikar, ahmad, agus) Dhita virgian ( Hendri, ade, nisa) dan Novis Santri ( Etika &Aidyta).

My Adventure in Belgium Part 2

Jum’at adalah hari pertama kita masuk ke central office colruyt, untuk hari pertama kita masih diantar oleh masing-masing host family, karena tidak tahu mana ruang kantor untuk kita. Sekitar 10 menit menunggu diruang kantor, akhirnya datang juga Mieke, perlu diketahui Mieke adalah karyawan colruyt yang bertanggung jawab selama kita ada di belgia. Sebelumnya Mieke menerangkan tentang program atau kegiatan apa saja yang akan kita lakukan di Belgia selama sebulan nanti. Setelah semua penjelasan tentang kegiatan kita selesai, kita lanjutkan dengan berkeliling untuk melihat bagian bangunan central office colruyt, sehingga kita nanti tidak bingung dan tersesat jika mencari ruang untuk meeting bersama karyawan colruyt lainnya. Dan untuk mengingat tentang bagian/ fase bangunan central office, kita diberi denah tentang bangunan tersebut dan peta daerah halle. Halle merupakan daerah dimana banyak anak perusahaan colruyt berdiri, seperti Hellebroek (bengkel truk colruyt), Hellebroek office/ collishop (studio photo, tempat untuk seleksi karyawan dan workshop colruyt), dan masih banyak lagi anak cabang perusahaan colruyt yang berada di Halle.

Selanjutnya bertemu dengan CEO colruyt yaitu Mr. Jef Colruyt dan Franc Colruyt, kakak beradik yang tegas dan berwibawa dalam memimpin perusahaan terbesar di Belgia ini. Bertemu dengan Jef adalah impian kita semua penerima beasiswa colruyt, tak hanya kita, karyawan colruyt pun belum tentu pernah bertemu dan berbincang denga Mr. Jef dan Franc, karena sibuknya mereka. Untuk yang pertama kita mengucapkan banyak terima kasih atas beasiswa yang telah diberikan oleh colruyt kepada kita, sehingga kita bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Dilanjutkan dengan Mr. Jef yang bercerita tentang sejarah berdirinya colruyt dan Jef menjelaskan mengapa mereka memberikan beasiswa ke Indonesia. Begitu singkat pertemuan kita bersama jef dan franc, tak lupa kita berfoto bersama mereka berdua.

Ternyata capai juga, hanya untuk melihat-lihat bagian bangunan central office colruyt dan meeting bersama CEO colruyt. It’s time to lunch, untuk pertama kita lunch dikantin colruyt, kita ditemani oleh mieke dan temannya, dia juga menjelaskan tentang makanan mana yang halal dan baik buat kita, karena semua menggunakan bahasa Belanda. Dan perlu diingat, bahwa orang eropa itu suka makan daging babi, jadi kita sebagai muslim harus hati-hati dalam memilih makanan, kalau tidak tahu bertanyalah orang sekitar. Saya untuk hari pertama makan di kantin colruyt, dengan pasta, ayam , pudding coklat dan air putih. Semuanya habis 4,64 euro kalau dirupiahkan sekitar 65.000. Setelah selesai lunch kita diberi waktu untuk melaksanakan sholat dhuhur, sebelum pergi ke hellebroek dan dassenveld. Oh ya untuk jadual sholat disana jauh berbeda dengan Indonesia. Untuk sholat dhuhur, 13.30, sholat ashar, 16.30, untuk sholat maghrib 19.00, sholat isya’ 21.05, dan untuk sholat shubuh 06.15, tapi untuk jadual tak selalu sama, terkadang dalam satu bulan perbedaan waktu sholat bisa sampai satu jam.

Selesai sholat kita langsung menuju ke hellebroek, dengan jalan kaki karena tak begitu jauh. Hellebroek merupakan tempat magangku nanti selama seminggu. Oh ya berbeda dengan di Indonesia, trotoar sana benar-benar buat pejalan kaki, tidak ada tukang asongan yang jual di sepanjang trotoar. Di Belgia, terdapat jalan khusus mobil, jalan khusus sepeda dan pejalan kaki, dan untuk menyebrang ada tempatnya sendiri, dengan menekan tombol khusus pejalan kaki, sehingga kita tidak takut lagi dalam menyebrang jalan. Tak seperti central office, hellebroek lebih kecil, tapi memiliki ruang bawah tanah, sehingga kalau naik lift ada -1, 0 (exit), 1, dan seterusnya. Selesai mengelilingi hellebroek, kita lanjut ke Dassenveld, yaitu gudang semua produk colruyt yang berada di Halle. Tak hanya sebagai gudang, dassenveld juga sebagai tempat pengumpulan krat dan pengolahan sampah. Karena setiap truk yang kembali ke dassenveld tidak boleh kosong, harus membawa sampah maupun krat dari berbagai anak cabang perusahaan colruyt. Berbeda dengan Indonesia, sampah disana sudah disendiri-sendirikan, mulai sampah botol, plastic, hingga sisa makanan, sehingga pengolahan sampahnya mudah. Oh ya untuk sampah botol, plastik berwarna biru, untuk sampah plastic dan kertas berwarna putih, dan sisa makanan berwarna hijau atau hitam. Untuk dirumah warga, jika sampah dicampur, akan mendapatkan denda dan sanksi.

Setelah selesai berkunjung ke hellebroek dan dassenveld, kita kembali ke central office untuk membuat daily report tentang apa saja yang sudah kita dapat selama satu hari ini. Setelah semua selesai presentasi tentang daily report untuk hari ini, kita mendapat tugas untuk membuat presentasi maupun kumpulan foto tentang Indonesia, buat minggu depan, karena kita akan mengajar disalah satu sekolahan di brussel. Oh ya hari ini pula kita diberi camera, laptop, dan handphone beserta simcardnya, untuk bisa digunakan untuk membuat daily report maupun foto-foto kegiatan kita selama di belgia. Untuk hari pertama cukup melelahkan dan cukup menguras energy, menyesuaikan dengan kebiasaan orang disini, yaitu jalan kaki dengan cepat, setiap hari harus focus untuk menerjemahkan apa saja yang mereka bicarakan.

My Adventure in Belgium Part I

Waktunya tiba untuk berangkat ke belgia, 1 Oktober 2013 jam 2 siang, saya berangkat ke bandara Ahmad Yani Semarang. Ini adalah pertama kali bagi saya untuk naik pesawat terbang. Tiketing, boarding pass, bagasi, dan tax airport sudah beres, tinggal menunggu pesawat datang. Ternyata pesawat Lion air yang akan saya naiki, mengalami keterlambatan, sehingga jadual yang awalnya jam 16.30 menjadi 18.00 WIB saya baru terbang menuju Jakarta. Tak terasa satu jam saya berada didalam pesawat, akhirnya sampai di bandara Soekarno Hatta. Ini adalah pengalaman pertama naik pesawat, ternyata rasanya hampir sama dengan jet coster. Di bandara Soetta (Soekarno Hatta) kami memiliki waktu 4 jam untuk mengurus boading pas dan lain-lain. Jadual pesawat kita jam 00.10 WIB. Dan waktunya untuk naik jetlight.

Pesawat Qatar airways sudah menepi, inilah waktunya yang kami tunggu terbang di atas awan, menuju benua biru eropa, tapi sebelumnya kami transit di Doha Qatar terlebih dahulu. Perlu diketahui bahwa Qatar airways merupakan sponsor utama Barcelona FC. Perjalanan Jakarta ke Qatar membutuhkan kurang lebih 9 jam. Tak seperti lion air, pesawat Qatar airways begitu istimewa bagi saya, meskipun kelas ekonomi, tapi saya merasa di kelas eksekutif. LCD touch screen 10 inchi, bantal, dan selimut telah tersedia. Yang lebih istimewa pramugari yang cantik selalu ramah dan senyum dalam memberikan snack dan makanan. Untuk makan kami mendapatkan dua kali makan besar. Untuk menunya ada nasi dengan kambing, dan kentang dengan ayam, karena saya mau mulai membiasakan makan tanpa nasi, saya memilih kentang dengan ayam. Untuk minumnya kami harus benar-benar detail, semisal air putih, jika kami hanya bilang water, maka akan diberikan water soda, tapi jika kita bilang mineral water, itu baru air putih biasa. Oh ya begitu juga ketika kami ingin minum kopi atau teh, kami juga harus minta gula atau susunya, kalau tidak maka hanya kopi dan teh yang sangat pahit yang kami dapat. Meskipun kurang lebih 9 jam kita dipesawat, kami tak mengalami kejenuhan maupun kebosanan. Karena kami ditemani dengan pramugari yang cantik ramah dan film maupun game yang ada di depan kami. Tak terasa sudah mau sampai di Qatar, ditinggal tidur, nonton movie, dan mendengarkan musik, eh sudah sampai di Qatar.

Jadual pesawat dengan tujuan Brussel jam 08.35 waktu Qatar, sehingga kami memiliki waktu 4 jam untuk melihat-lihat bandara internasional Doha. Tapi sebelum  jalan-jalan kami mencari gate yang untuk ke Brussel. Di bandara Doha, memiliki mall yang besar, tak hanya itu bandara ini juga selalu ada pameran mobil yang mewah. Akhirnya tiba juga saatnya terbang menuju brussel, masih menggunakan pesawat Qatar airways. Perjalanan Qatar ke brussel kurang lebih 6 jam, seperti waktu dari Jakarta ke Qatar, pramugari yang cantik setia menyapa kami dan ramah dalam melayani setiap penumpang. Untuk fasilitas pesawatnya masih sama, Cuma berbeda dilayar lcd, yang kali ini tidak touch screen. Dan untuk menu makanannya tidak ada nasi, adanya pasta dengan ayam, dan kentang dengan sapi. Untuk minumnya maish sama. Karena masih banyak film yang belum aku tonton, saya melanjutkan nonton filmnya. Kalau dihitung dari Jakarta sampai brussel sudah 6 film yang saya tonton.

Alhamdulillah sekitar jam 14.35 waktu setempat, kami sampai di Belgia dengan selamat. Setiap kali datang ke bandara internasional, selalu ada pemeriksaan passport,  jadi passport itu penting bagi turis seperti kami ini. Saatnya mencari tas yang ada dibagasi, tak perlu lama untuk menemukan tas kita msing-masing. Tak tahu seperti apa muka orang yang menjemput kami, tapi setelah kami melihat ada orang yang membawa tulisan Colruyt, langsung saja kami bilang hallo, miss mieke, “ya, I’m mieke, mieke vercaeren”. Selanjutnya kami diantar ke central office untuk bertemu dengan host family masing-masing, karena waktu itu hari aktif, jadi central office begitu ramai.

Sambil menunggu host family kami datang, kami dibisa ambil minuman atau snack yang ada di ruang receptionist. Saya mencoba jus orange dan coklat, dan ternyata, rasa jus orangenya jauh berbeda dengan Indonesia, tidak ada manisnya, kecut, dan katanya mieke, itu jus orange asli tanpa ada pemanis maupun gula. Sedangkan untuk coklatnya hampir sama, tapi kalau di Belgia rasa pahitnya sangat terasa. Itulah pengalaman kedua minum jus orange dan coklat, dan ternyata rasa dipesawat dan di Belgia sama, hahahaha, pengalaman adalah guru terbaik. Beberapa menit kemudian, host family saya yang datang pertama, yaitu Mrs. Helena Thonnart. Pandangan pertama begitu mengesankan, karena host familyku masih muda, berbeda dengan yang difoto, yang seminggu sebelmunya telah dikirim ke emailku.

Sambil menunggu host family yang lain, saya bincang-bincang dengan miss Helene tentang keluarga, kebiasaan keluaganya dan lainnya, kenapa ini saya tanyakan, karena menurut cerita angkatan dulu yang sudah berangkat ke Belgia, kebiasaan setiap keluarga di Belgia itu beda-beda. Dan Alhamdulillah kebiasaan mereka hampir sama dengan Indonesia, Cuma disana setiap ingin tidur harus mengucapkan “good night or sweet dream”. Setelah semuanya bertemu dengan host family masing-masing, kami pulang ke rumah masing-masing, untuk perjalanan pulang dari kantor kurang lebih 30 menit, dengan menggunakan mobil. Tak kusangka mereka begitu senang ketika saya tiba disana, sampai-sampai ada tulisan “Welcome to Bai in Belgium”. Tak hanya didepan rumah, tapi di depan kamar yang aku tempati pun ada tulisannya. Dalam hatiku begitu gembira dan senang dengan penyambutan mereka. Yang lebih mengagetkan lagi yaitu ketika baru datang, saya langsung ditawari untuk nonton bola, karena waktu itu ada pertandingan team bola kesayangan suami miss Helene yaitu Mr. Antoine, saya langsung ingin diajak nonton, tapi badan saya yang tak mendukung, akhirnya mungkin lain waktu saya akan ikut nonton bola dibelgia.

Hari pertama dibelgia, saya tidak memiliki kegiatan di kantor, oleh karena itu, my host family mengajak saya untuk belanja kebutuhan apa saja yang saya perlukan disini, terutama makanan, karena sangat berbeda cita rasa makanan Eropa dengan Indonesia. Saya bersyukur bisa tinggal dengan kelurga yang sangat terbuka dan sangat baik sekali. Alamat my host family Hoves, Enghien, sebuah daerah kecil yang jauh dari keramaian. Pengucapan alamat my host family dalam bahasa belanda yaitu edingen, tapi kalau bahasa prancis onggiya, butuh satu minggu saya untuk mengucapkan alamat my host family dalam bahasa perancis. Sebelum kami berangkat ke supermarket, saya minta kepada miss Helene untuk mencarikan masjid yang dekat dengan colruyt office, karena besok ketika kita ingin sholat jum’atan dan sholat Idul Adha kita sudah tahu masjidnya. Dan seperti yang aku bayangkan, memang begitu sulit untuk mencari masjid dinegara yang mayoritas non-muslim, dan untuk bangunan masjid sinipun jauh berbeda dengan Indonesia, maupun negara muslim lainnya, disini bentuk masjid sama dengan bentuk rumah biasa, Cuma didepannya ada tulis place for pray moslem (mosque). Tapi ada dua masjid yang bagus di Belgia, yaitu di Brussel, ibu kota Belgia. Oh ya, masjid yang dekat dengan kantor, jaraknya hampir sama dengan Semarang-Kendal.

Setelah menemukan masjid, dan sekalian saya sholat dhuhur disana, selanjutnya waktunya shopping. Supermarket colruyt (collect&go) yang tak jauh dari rumah, saya dan miss helene memilih-milih kebutuhanku dan dia menerangkan apa saja yang saya pilih, bagus atau tidak untuk saya, tentunya selain wine, babi, dan anjing. Berbeda dengan supermarket di Indonesia, di collect&go tidak ada music, dan indoornya pun tak begitu terang akan warna-warma cat. Setelah dirasa cukup untuk kebutuhan saya selama seminggu, sekarang waktunya pulang. Oh ya baru kali ini saya shopping habis sebanyak 130 euro, kalau dirupiahkan sekitar 1.950.000, hahahaha, banyak juga kebutuhanku.

Waktunya untuk menjemput anak-anak disekolah, mereka yaitu Emile (3 tahun), Mathis (5 tahun), dan Noe (8 tahun), semuanya disatu sekolahan. Untuk waktu sekolah mereka, dari hari senin-jum’at, mulai jam 09.00 – 16.30. Untuk hari sabtu mereka ada exschool and scouts. Oh ya untuk permainan disana ada yang sama dengan Indonesia, seperti sumamanda (game khas jawa), bekelan (biasanya untuk cewek), dan daconan. Jarak rumah sekolahan tidak begitu jauh, hanya 15 menit.

Panorama Studi di Korea

“Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” ― Nelson Mandela

Korea sedang banyak diperbincangkan oleh dunia saat ini. Tidak hanya dengan Korean wave-nya yang berhasil menyapu berbagai penjuru belahan dunia. Tetapi juga tentang kedigdayaan kekuatan industri dan pendidikannya. Korea menjadi buah bibir yang saat ini diperhitungkan dalam kancah percaturan dunia. Sebut saja perusahaan industri terkemuka milik Korea seperti Samsung, Hyundai, dsb. Industri tersebut mampu bersaing dengan pasar Eropa dan Amerika secara signifikan. Mereka menawarkan teknologi yang bisa dibilang lebih canggih atau minimal bisa menawarkan teknologi yang sama dengan pesaing beratnya. Misalnya, Samsung dengan produk Galaxy S4 yang dijejali berbagai teknologi canggih dapat bersaing dengan iPhone, handphone besutan Apple. Belum lagi Hyundai yang menawarkan mobil dengan teknologi tinggi seperi smart parking dan untuk seseorang berkebutuhan khusus.

Tentunya masih banyak capaian Korea dalam beberapa dekade terakhir ini. Dari semua itu kunci utamanya  terletak padapendidikan. Pendidikan merupakan kunci utama dalam kemajuan suatu bangsa. Pendidikan menentukan arah kemana sains dan teknologi akan dikembangkan.  Pendidikan juga dapat menembus pagar sejarah kelam suatu bangsa. Hal ini dikatakan secara tegas oleh Nelson Mandela yang saya kutip diatas.

Bila dilihat dari rangking dunia. Prestasi universitas yang berasal dari Korea mulai menunjukkan geliatnya untuk merebut kursi nomer satu dalam urutan tersebut. empat diantaranya msuk dalam daftar 200 besar universitas dunia versi THES 2012-2013 (Times Higher Education) yakni Pohang University of Science and Technology, Korean Advanced institute of Science and Technology, Seoul National University dan Yonsei University.

Berbicara mengenai kuliah di Korea, banyak yang bilang kuliah di Korea itu cuma ada dua pilihan. Yang pertama jika jurusannya adalah sains dan teknologi maka kebanyakan waktu belajarnya akan dihabiskan di dalam laboratorium. Kedua adalah jika jurusannya sosial maka kebanyakan waktunya akan dihabiskan di dalam perpustakaan. Hal tersebut menjadi sebuah harga mati yang harus dibayar oleh seorang mahasiswa di Korea.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Korea. Saya merasakan atmosfir yang memang berbeda dari Indonesia. Kalau saya membandingkan antara Korea dengan Indonesia. Layaknya workaholic dan sleepaholic. Korea adalah tempat dimana orang selalu berjalan dengan cepat dan terburu-buru. Ketepatan waktu adalah hal utama yang sangat dijunjung tinggi disini. Di dunia kampuspun juga demikian mungkin lebih tepat disebut sebagai studyholic. Mahasiswa jarang yang datang terlambat dalam kelas. Dosennya-pun juga demikian. Bahkan tidak jarang dosennya menunggu para mahasiswanya datang ke kelas. Sehingga suasana belajar mengajar dapat dilakukan secara kondusif, bahkan sangat kondusif. Biasanya satu SKS (sistem kredit semester) dalam satu mata kuliah diberi alokasi waktu 50 menit. Sedangkan 10 menitnya digunakan untuk istirahat sejenak minum kopi atau ke kamar kecil. Hal tersebut dilakukan secara konstan tanpa ada sedikit perubahan. karena setiap perubahan kecil akan berdampak pada budaya yang dapat merebak dengan cepat. Yang akhirnya akan merusak sistem yang telah dibangun.

Mengenai fasilitas kampus, hati ini tak henti-hentinya berdecak kagum ketika melihat berbagai fasilitas penunjang nan canggih dan lengkap. Di Myongji College tempat saya mengenyam pendidikan tersedia berbagai fasilitas pendukung kegiatan belajar mengajar.  Satu hal yang paling saya rasakan perbedaan dengan kampus yang ada di Indonesia adalah tidak adanya birokrasi  njlimet yang membuat mahasiswa merasa terbebani. Semua sudah terkomputerisasi dengan baik. Ketika membutuhkan suatu dokumen pendukung akademik. Bisa dipastikan tak kurang dari 15 menit sudah berada ditangan dokumen tersebut. Setiap kelas terdapat satu komputer di meja masing-masing. Jadi mahasiswa dapat melaksanakan praktik dan teori sekaligus. Satu mahasiswa satu komputer dan petugas asisten yang membantu mempersiapkan semua program yang dibutuhkan. Belum lagi jika akan melakukan praktikum, karena jurusan saya adalah ITC (information and technology communication)maka perkuliahan lebih banyak diorientasikan kedalam bentuk praktikum. Praktikum dilakukan tanpa membebani mahasiswa untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Jika di Indonesia saya harus membeli alat praktikum tambahan karena tidak disediakan oleh pihak kampus. Di Korea sangatlah berbeda. Semua peralatan sudah disediakan oleh kampus dan mahasiswa tinggal belajar dan fokus pada praktikum yang akan dilakukan.

Di awal saya menyinggung tentang karakteristik khas mahasiswa negeri timur (Jepang, China dan Korea) yakni studyholic, inilah yang tidak dimiliki oleh Indonesia. Indonesia terkenal dengan gaya lambat dan santai. Sedangkan Korea terkenal dengan gaya cepat dan tepat waktu. Perbedaan kultur budaya tersebut terasa sangat kental disini. Khusunya terlihat pada saat akan menghadapi ujian. Orang korea akan rela untuk mengorbankan sebagian besar waktu tidurnya untuk belajar. Tidak jarang juga melihat mahasiswa korea di perpustakaan sedang tertidur diantara gunungan buku di meja. Mereka sangat ambisius sekali dalam meraih nilai ujian sempurna A+. Hal yang menarik disini ialah ketika didapati seorang mahasiswa Korea yang mendapatkan nilai A+, bisa dipastikan kemampuan skill dengan nilainya adalah seimbang. Karena untuk mencari pekerjaan yang layak sangatlah sulit di Korea sehingga antara nilai dan skill harus tidak ada yang berat sebelah. Hal ini sulit dijumpai di Indonesia. Nilai A yang notabenenya adalah nilai tertinggi dalam suatu mata kuliah merupakan representasi dari nilai kuliah semata. Bukan nilai dari skill yang dimiliki oleh mahasiswa tersebut. Hal ini dibuktikan bahwa untuk melamar suatu pekerjaan mahasiswa yang baru lulus harus menyertakan berbagai macam sertifikasi ke perusahaan yang bersangkutan. Di Indonesia nilai hanya sebagai pengantar saat wawancara kerja. Entah bagaimana hal ini bisa berkembang dikalakangan dunia pelajar di Indonesia. Tapi juga tidak bisa dipukul rata seperti itu. Banyak juga mahasiswa Indonesia yang nilai kuliahnya unggulan dan skill yang memadai. kuncinya hanya satu asal mau latihan, latihan dan latihan.

Banyak orang Korea bilang Indonesia adalah The Giant Sleep, raksasa yang sedang tertidur.Saya rasa memang ini benar adanya. Pemuda dan mahasiswa sebagai garda terdepan dalam pembangunan strategis suatu bangsa kebanyakan lebih suka untuk menghabiskan waktunya bermalas-malasan. Jika dibandingkan dengan Korea, Indonesia negeri nan subur permai itu sangat beruntung memiliki sumberdaya alam yang melimpah. Kita semua tahu. Dunia juga mengetahuinya. Namun hanya ada satu yang tidak dimiliki oleh Indonesia. Kurangnya sumberdaya manusia unggul ditunjang dengan karakter budi khas Indonesia dan mau mengabdikan diri untuk membangun Indonesia tercinta. Saya rasa sumberdaya manusia unggul tidak cukup. Kalau cuma itu saya pastikan Indonesia banyak memilikinya. Buktinya banyak sekali mahasiswa unggulan Indonesia yang tersebar diluar negeri memiliki prestasi selangit. Tetapi yang juga dibutuhkan karakter budi khas Indonesia yang terkenal luhur dan santun. Dan satu lagi yang mau mengabdi untuk kejayaan Indonesia pusaka. Bermodalkan tiga unsur utama tersebut bukan tidak mungkin Indonesia akan memimpin percaturan global dan dipandang sebagai bangsa yang besar serta terhormat. Untuk mewujudkannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh waktu, usaha keras dan kebersamaan dalam mewujudkannya.

Wallahu A’lam Bisshowab… (oleh : Akhyar Sadad)

Berlebaran di Tempat yang Jauh

Suara gema takbir seraya mengagungkan Asma Allah telah dikumandangkan.. Ribuan umat Islam di berbagai  penjuru seoul yang melakasanakan sholat  Idul Fitri 1434 H tengah berbahagia. Setelah sebulan penuh  umat islam menjalankan ibadah puasa dan amal ibadah lainnya dengan dasar iman, kini kemenangan itu telah digapai.

Hari raya yang penuh hikmat, dalam suasana lebaran ini pun kami mengikuti kegiatan silaturahim dan  Halal Bihalal yang diadakan oleh pihak KBRI dalam rangka mempererat tali silaturahmi seluruh warga Indonesia di Korea Selatan. Acaranya bertempatkan di Incheon Silip Dowon Sport Hall yang lokasinya agak jauh dari ibu kota, Seoul. Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 1 setengah jam dengan berganti subway 3 kali ini pun kami tempuh. Sesampainya di sana, kami disuguhkan makanan Indonesia (terlihat bahwa warga Indonesia yang tinggal di negeri ginseng ini memang tidak sedikit). Setelah itu, kami mengikuti serangkaian acara yang telah disusun oleh panitia. Tentunya, acara utama adalah Silaturahmi, jadi seusai makan siang kami diarahkan oleh panitia untuk bersalam-salaman dengan Duta Besar Indonesia yakni Bpk. John Prasetyo. Suatu kebanggaan buat kami yang sempat bersalaman dengan beliau.

Ucapan saling memohon maaf dan dimaafkan menunjukan kerendahan kita sesama manusia yang tak luput dari dosa dan salah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

… dan (sebaliknya) hendaklah mereka memaafkan serta melupakan kesalahan orang-orang itu; tidakkah kamu suka supaya Allah mengampunkan dosa kamu? Dan (ingatlah) Allah Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani. (al-Nuur (24) : 22)

Selamat Hari Raya Idul  Fitri 1434 H, Minal Aidin Walfaizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin ^^

(Nisa)

Ramadhan di Korea

Seperti layaknya seluruh umat Islam dibelahan bumi manapun, ada moment special yang selalu dinanti setiap tahunnya, yaitu bulan suci Ramadhan.  Yah, bulan kesembilan yang meurut kalender Islam ini selalu tampak memperlihatkan suasana dan tradisi berbeda bagi umat Islam, karena pada saat itu rata-rata umat muslim akan melakukan ibadah puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, lalu setiap malamnya, masjid-masjid akan dipenuhi oleh anak-anak dan orang dewasa yang dating untuk melakukan shalat isya, tarwih dan witir.  Sehingga pada siang hari jarang kita melihat kedai-kedai makanan yang terbuka begitu saja, biasanya digunakan tirai penutup (khususnya bagi negara yang penduduknya mayoritas muslim, contohnya Indonesia), apalagi orang yang berlalu lalang makan dijalan, kalaupun toh dia seorang non muslim, pasti mereka akan tenggang rasa terhadap muslim yang sedang berpuasa.

Namun kali ini berbeda untukku, dan mungkin juga untuk kesepuluh saudaraku yang sama-sama merantau jauh dari kampong halaman untuk menuntut ilmu ke negeri lain. Untuk pertama kalinya, berdiri tegak menjalani hariku hingga separuh tahun berlalu, di belahan bumi yang lain, di kolong langit yang berbeda, hembusan anginnya tak sama, bahkan harus empat kali beradaptasi dengan empat musim yang berbeda pula nantinya.

Meski keberadaan kami dinegeri gingseng ini baru dibilang seumur jagung, tapi setidaknya sedikit demi sedikit kami sudah mulai menyesuaikan diri dengan baik. Begitupun saat menjelang Ramadhan, tak ubahnya saat sedang berada di tanah air, kami juga tetap menanti riang moment-moment bulan suci ini. Awalnya kami sedikit kebingungan, mengingat aturan asrama yang menjadi hunian kami, yang mana asrama dengan empat lantai dan memiliki dua dapur umum ini, hanya memperkenankan penggunaan dapur mulai jam 6 pagi hingga jam 11 malam. Dan yang menjadi tanda tanya kami adalah bagaimana kami harus masak untuk persiapan makan sahur nantinya.  Sempat kami sedikit tawar menawar dengan pegurus asrama, namun tak mendapat izin. Hingga akhirnya kami menemukan cara yang lain. Jadi untuk menyiapkan makan sahur kami telah memasaknya setelah makan malam. Mengingat waktu sahur juga tak begitu berjarak, karena pada pukul  2  dini hari kami sudah harus bangun untuk mulai makan sahur.

Banyak keadaan berbeda yang terjadi selama ramadhan di kota Seoul disbanding dengan saat berada di tanah air. Dimulai dari lingkungan sosial, negara yang sangat terkenal dengan artis k-pop ini penduduknya mayoritas non muslim, jadi hamper disetiap sudut kota kita bisa menemukan kedai makanan yang terpampang begitu saja, bahkan orang makan dan minum juga dengan leluasa. Selain itu Ramadhan tahun ini di kota Seoul bertepatan dengan musim panas. Mungkin teman-teman yang membaca postingan ini, akan beranggapan apa bedanya musim panas di Indonesia dengan Seoul, toh bakal sama saja, karena Indonesia yang merupakan Negara tropis juga beriklim panas (seperti isi pikiran saya saat pertama kali menginjakan kaki di negeri gingseng ini), namun setelah saya merasakan musim panas sesungguhnya dinegara ini jauh berbeda dengan Indonesia, saya merasa beruntung lahir dan besar di Indonesia, karena musim panas di sini, selain suhunya juga sangat tinggi, ketika musim panas badan akan lebih mudah memproduksi keringat, dan keringat tersebut akan terasa lengket, bahkan tak jarang menjadi bintik-bintik merah ditubuh yang sangat mengganggu penampilan dan membuat badan terasa tak nyaman. Selain itu juga selama musim panas waktu terjadinya siang jauh lebih lama dari yang kami rasakan di Indonesia. Saat pertama menjalani puasa kami harus mulai sahur jam 2 malam, karena waktu imsak hamper setengah tiga pagi, lalu kemudian kami berbuka puasa pukul 07.58pm. Namun kuasa Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, selama bulan ramadhan Allah SWT begitu sering mengirimkan rahmat-Nya (hujan) sepanjang hari, hingga mentari kadang tak sempat diberi ruang untuk memberikan tambahan cobaan saat menahan dahaga.

Tak sampai disitu saja kesulitan kami, inilah salah satu hal yang sangat membuat kami merasa kehilangan, yaitu masjid. Jauhnya jarak masjid dari asrama hunian kami harus ditempuh dengan cara menumpangi bis hingga ke stasiun subway dan dilanjutkan dengan subway, dan terakhir jalan kaki beberapa ratus meter hingga akhirnya mencapai masjid yang terletak di daerah Ittaewon tersebut. Setidaknya meghabiskan setengah jam lebih untuk menempuh perjalanan. Maka dari itu saya lebih sering shalat isya dan tarwih sendirian di asrama. Bahkan untuk pengingat waktu shalat dan berbuka pun kami menggunakan jasa aplikasi Islamic finder. Tak jarang saat sahur dan berbuka pun untuk menghidupkan nuansa ramadhan kami selalu mendengarkan lagu-lagu religi Indonesia yang kami download di youtube.

Ramadhan yang bertepatan dengan liburan akhir semester musim panas ini, kami isi dengan kegiatan yang beragam, dimulai dari ke tempat wisata bersama, seperti ke Namsan tower, museum Tedy bear, Namsan hanok village, dll. Selain itu juga untuk 5 saudara kami lainnya, mereka sibuk dengan kegiatan kerja paruh waktunya. Tak jarang kami juga selalu mengikuti kegiatan buka bersama yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Seoul setiap hari sabtu. Disana kami dapat bertemu dengan seluruh saudara setanah air yang tinggal di Korea, mulai dari yang berprofesi pelajar hingga pekerja pun terkumpul, dan menyatu disana. Sungguh sesaat momentnya berasa seperti sedang di Indonesia. (Ade Rusmawati, Aidyta R)

Volunteering

Tak terasa 4 bulan sudah kami berada di kota gingseng Seoul, 1 musim telah berlalu, dan sekarang berjalan di musim ke dua ‘summer’ banyak hal yang telah kami alami, suka dukanya pun sudah banyak tersimpan dalam memori ini. Tema kali ini tentang Volunteering, disini kami banyak menemukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan volunteering, seperti volunteer untuk membantu korban bencana alam, memberikan makan orang yang kurang mampu, mengajar anak-anak kecil dan masih banyak lagi.

Menurut saya menjadi volunteer itu mengasyikkan, selain mendapatkan pengalaman baru, kita juga banyak bertemu dengan teman-teman baru, apalagi disini, ketika kami di tawarkan untuk menjadi volunteer dalam kegiatan Hand to Hand yang diadakan untuk membantu korban bencana alam di China dan India, kami bertemu dengan banyak orang dan semuanya baik, tidak hanya warga domestik, para foreigner juga banyak berpartisipasi dalam kegiatan ini. Para volunteer bisa berpartisipasi dengan berkreasi sesuka hati, mulai dari menggambar, menjahit, menghias sepatu, mengumpulkan baju-baju bekas, dan lain-lain, hanya dengan membeli  karcis seharga 1000 won lalu menukarnya dengan bahan yang akan di kreasikan.

Tidak hanya itu beberapa hari yang lalu kami juga  berpartisipasi  dalam mengenalkan tanah air Indonesia tercinta kepada anak-anak SD yang usianya (menurut usia Korea 11-13 tahun), kami mengenalkan tentang kebudayaan Indonesia, flora, fauna, sampai permainan tradisional. Dan semua sangat antusias mengikuti event ini, selain itu kami juga memainkan beberapa game dan nyanyian dari Indonesia dan Korea. Dan bagi anak-anak yang memenangkan game kami berikan hadiah souvenir dari Indonesia. Semuanya ikut berpartisipasi, dan bergembira bersama. Inilah arti dalam indahnya sebuah kebersamaan.

“Our Life is our message to the world, Let’s make it inspiring” Lorrin L, Lee. (ditulis oleh Tika)

One Indonesia Day

Senin 30 juni 2013, Ansan Olimpyc Museum padat dikunjungi warga Indonesia. Acara yang digelar mulai pukul 10.00 – 18.00. Tidak hanya para mahasiswa, pekerja yang bermukim di Korea pun tak ketinggalan untuk datang. Hari itu adalah ajang silaturahim masyarakat Indonesia se kota Seoul yang diadakan oleh Perpika (PersatuanPelajar Korea) dan Mahasiswa UT di Korea. Suasana berubah seperti suasana di tanah air. Banyak makanan-makanan kha stanah air seperti coto Makassar, pisang ijo, es buah, bakso, soto, peyek dan banyak lagi disuguhkan dalam acara tersebut. Tidak hanya makanan, baju batik, blankon pun tidak luput dari pemasaran.

Untuk menambah keseruan dalam acara tersebut diadakan lomba penyanyi solo, band dan kebudayaan. Selain perlombaan ada juga performance taekwondo yang di tampilkan oleh masyarakat Indonesia. Tidak sedikit yang berpartisipasi dalam lomba tersebut. Dalam penampilan kebudayaan ada banyak yang disuguhkan. Ada tari Reog Ponorogo, tari Lenggang Nyai (Betawi), Ganatar Belian (Dayak Kalimantan), paguyuban Baduy, pencak silat, tari waljamahila jaipong kembang dan masih banyak lagi.  Berdasarkan bincang-bincang dengan beberapa penari,  bahkan ada yang dating jauh-jauh dari Banten untuk mengikuti kegiatan ini. Sungguh luar biasa.

Dalam kegiatan ini mahasiswa Unissula, (Aidyta dan AdeRusmawati) pun turut berpartisipasi dalam memeriahkan acara ini. Bergabung dengan Kelompok Tari Tradisional Indonesia (KTTI) yang menampilkan tari Gantar Belian.  Suatu kebanggaan bisa membawakan tarian Indonesia di Negara lain. Moment yang sangat indah. Walupun tidak berkumpul bersama keluarga, namun karena satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air, mebuat suasana menjadi hangat.